banner main1

Pengantar 25-30 November 2013

Otonomi Perguruan Tinggi, UU Pendidikan Tinggi,
dan Proses Hukum di Mahkamah Konstitusi

Gedung Mahkamah KonstitusiDalam beberapa waktu ke depan, web ini akan membahas Otonomi Perguruan Tinggi, UU Pendidikan Tinggi, dan adanya proses hukum di Mahkamah Konstitusi.  Pembahasan ini  mencakup berbagai hal (silahkan klik), antara lain:

Silahkan klik, dan di setiap hari Senin diharapkan ada pembaharuan materi.

Pengelola web.


Website ini bertujuan sebagai forum pembahasan manajemen dan kebijakan pendidikan tinggi di Indonesia. Para pembaca dapat klik di Kotak kanan atas tentang Perkembangan proses hukum di Mahkamah Konstitusi yang membutuhkan banyak PP dan Peraturan Menteri Pendidikan. Disamping itu  ada rubrik Memahami Otonomi Perguruan Tinggi yang diisi oleh Prof. Satryo Sumantri Brodjonegoro, berbagai usulan kebijakan untuk pimpinan Dirjen Dikti, dan diskusi interaktif mengenai berbagai isu strategis. Disamping itu rubrik Opini dapat diklik untuk membaca berbagai pemikiran dari para ahli dan praktisi. Pekan ini artikel opini Gugatan atas Undang-undang Pendidikan Tinggi 2012 oleh Ade Armando, Dosen Komunikasi Universitas Indonesia menjadi pembuka minggu ini.
 

Dean-Course Leadership Program

Magister Manajemen Pendidikan Tinggi (MMPT) Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada
Menyelenggarakan: Dean-Course Leadership Program Using Blended Learning Approach for 25 Higher Education Institutios
under USAID Program 2014

April – Juni 2014

Pembelajaran Abad Ke-21: Project Based Learning

Oleh: Sahid Susanto

Dalam abad ke-21 sekarang ini, salah satunya ditandai dengan penggunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi, TIK (Communication and Information Technology, CIT) yang semakin inten di segala aspek kehidupan. Perkembangan alat TIK yang begitu cepat juga menggerakkan dinamika kehidupan begitu cepat pula. Di dunia pendidikan tinggi, perkembangan TIK merubah paradigma dalam pembelajaran. Pengajar bukan lagi sebagai pemilik tunggal keilmuan yang harus di transfer kepada mahasiswa, tetapi sudah digantikan dengan media online

Berbagai macam informasi akademik yang diperlukan oleh mahasiswa ada di media on-line. Transformasi ilmu dari pengajar kepada anak didik secara tatap muka, baik di kelas maupun di laboratorium sudah bukan lagi menjadi satu-2nya proses transfer ilmu. Fungsi pengajar sudah harus bergeser dari penyampai ilmu menjadi fasilitator pengembangan ilmu. State of the art dalam proses pembelajaran juga sudah harus bergeser mejadi pengawal atau pendorong menemukan sesuatu yang baru (assisting discovery).

 

Tantangan yang harus dihadapi dalam pembelajaran di abad 21 di Perguruan Tinggi adalah mengantarkan anak didik sehingga mempunyai kemampuan dalam: berpikir kritis dan berorientasi pada penyelesaian masalah, bekerja secara kolaborasi dengan skema jaringan kerja, mudah adaptasi dalam lingkungan social dan akademik, membangun inisiatif dan intreprenership, penyampaian pikiran oral secara efektif dan komunikasi penulisan, akses dan analisis informasi dan memngembangkan imaginasi.

Berbagai bentuk perangkat keras seperti computer laptop, tablet dan berbagai jenis handphone menjadi media penghubung untuk mendapatkan informasi keilmuan yang dibutuhkan mahasiswa tanpa dibatasi oleh waktu dan tempat. Kapan saja dan dimana saja informasi dapat di akses. Informasi akademik yang mencerminkan state of the art keilmuan terbaru yang dibutuhkan mahasiswa dengan mudah dapat diperoleh secara online lewat e-journal atapun e-book. Dengan bentuk transfer ilmu melalui media on-line ini menjadikan ilmu berkembang begitu cepat. Mahasiswa yang sudah terbiasa menggunakan alat TIK, menjadi bosan kalau kuliah secara klasikal.

Project Based Learning

Salah satu bentuk inivasi pembelajaranyang sekarang sedang banyak menjadi perhatian adalah Project Based Learning (PBL) atau Pembelajaran Berbasis Proyek (PBP). PBP merupakan pembelajaran yang sengaja di rancang agar mahasiswa lebih banyak melakukan proses pembelajaran secara otonom. Pengajar lebih berfungsi sebagai fasilitatoir. Namun demikian, diperlukan rancangan pembelajaran yang pada ujung akhirnya (output) mendapatkan hasil nyata

 

Rancangan pembelajaran dimulai dari mensintesakan isu-2 strategis yang akan diselesaikan melalui pendekatan dari bidang mata kuliah yang dipejari, dilanjutkan dengan perumusan masalah, metodologi pemecahan masalah, pengambilan keputusan, dan akhirnya mendapatkan solusi pemecahannya. Dengan proses ini mahasiswa akan belajar otonom dan mendapatkan hasil dari pebelajaran secara otonom pula. Dalam implementasi PBL, pengajar dituntut untuk lebih berperan sebagai fasilitator bagi mahasiswa dengan berbagai karakter karena latar belakang social- budaya yang berbeda. Dengan bakat yang dipunyai, mahasiswa diberi kesempatan mengembangkan kemampuan seluas-luasnya. Institusi pendidikan memberi fasilitas yang dibuthkan mahasiswa. Pembelajaran  berbasis proyek juga memberi peluang proses pembelajaran yang tidak hanya dilakukan di kelas. Bakat dan karakter menjadi basis untuk menentukan bentuk pilihan mahasiswa dalam penyelesaikan projeknya dalam setiap mata pelajaran.

 

Dengan bentuk pembelajaran yang demikian, diharapkan mahasiswa lebih mendapatkan beberapa manfaat dalam hal:

 

  • lebih dapat mempersiapkan diri untuk menerapkan danmengembangkan keilmuan dan ketrampilan berbasis pemecahan masalah secara bersama sehingga lebih siap pakai dalam dunia kerja
  • lebih mampu untuk memicu motivasi belajar secara mandiri, memahami keterkaitan ilmu yang dipelajari dengan persoalan di dunia nyata
  • lebih mudah dalam menjalin kolaborasi antar mahasiswa dalam mengkonstruksi pengetahuan karena dapat lebih paham masalah yang dihadapi dalam realitas kehidupan semakin kompleks dan membutuhkan kerjasama. Dalam suasana kolaboratif, mahasiswa lebih bebas untuk bisa melontarkan idea atau gagasan, bernegosiasi mencari solusi yang bisa diterima
  • meningkatkan pemahaman pentingnya kerja kelompok sebagai bagian dalam membangun ketrampilan komunikasi dengan saling menghormati atas pandangan dari disiplin ilmu yang lain
  • membuka kreativitas dalam memanfaatkan TIK untuk dipakai dalam penyelesaian masalah secara lebih cepat dan menginformasikannya kembali hasil kerja PBL kepada public secara lebih cepat pula

 

Epilog

 

Dari sedikit ilustrasi tersebut dapat dikemukakan bahwa pembelajaran dengan pendekatan Project Based Learning sudah saatnya mulai dipikirkan di dunia pendidikan tinggi. Sebagai contoh di Fakultas Kedokteran, pendekatan pembelajaran dengan Problem Based Learning sudah cukup lama dijalankan, bahkan sekarang menjadi wajib bagi institusi pendidikan kedokteran di Indonesia.

 

 

 

Dari sisi institusi pendidikan tinggi, di tingkat universitas/instutut perlu dimulai dari penempatan pertimbangan filosofis yang sesuai dengan jatidiri dan karakter bangsa dan nilai identitas universitas/instutut untuk membangun konsepnya sampai bentuk strategi implementasinya. Ruang di setiap bidang ilmu dalam satuan Fakultas perlu disediakan untuk mengakomodasi keunikan bidang ilmu. Di tingkat ini, Fakultas bisa lebih mengedepankan Problem Based Learning daripada Project Based Learning.

 

Dari sisi pengajar, perlu disiapkan pola implementasi pembelajaran yang mengarah pada pola baku. Secara generik mencakup mencakup perencanaan, implementasi dan monitoring dan evaluasi. Bentuk modul-modul pembelajaran Project Based Learning menjadi penting untuk mempersiapkan pelatihannya.

 

Referensi:

 

Jennifer Nichols, 2013. 4  Essential of 21st Century Learning cit. Akhamad Sudrajat, http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2013/10/01/prinsip-pembelajaran-abad-ke-21

 

John Larmer and John R. Mergendoller, 2010: Seven Essentials for Project-Based Learning

 

Seungyeon Han and Kakali Bhattacharya: Department of Educational Psychology and Instructional Technology, University of Georgia

 

(catatan: inspirasi dari beberapa sumber anonim dari internet)

 

 

 

DISKUSI INTERAKTIF

001

GOVERNANCE UNIVERSITAS

002

KEPEMIMPINAN ILMU

003

KEPEMIMPINAN STRUKTURAL

LINK TERKAIT

dikti hpeq2 unesco2 mpkkkki2mmpt