Pertemuan Informal Pemantapan Konsep Program Pendidikan Jarak Jauh

Reportase PJJ 3Firdaus Hafidz | 31 Januari 2019

Unduh Materi


Sebagai tindak lanjut dari pertemuan bersama Kemenristekdikti pada 22 Januari 2019, Departemen Kebijakan dan Manajemen Kesehatan, bersama seluruh pusat FK - KMK UGM mengunjungi Pusat Inovasi dan Kajian Akademik (PIKA) UGM, dan disambut oleh Dr. Hatma Suryatmojo, S.Hut., M.Si. dan  Dr. Irwan Endrayanto Aluicius, S.Si., M.Sc. Dalam pertemuan ini, pihak PIKA memberikan penjelasan terkait SK Rektor No 825 Tahun 2018 mengenai blended learning (kombinasi tatap muka langsung dan online) sebagai regulasi untuk memfasilitasi pengembangan proses pembelajaran di lingkungan UGM dengan memanfaatkan teknologi informasi. Sebagai tahapan awal, untuk menjamin kualitas pembelajaran, UGM mengatur maksimum 30 % atau 4 tatap muka dapat dilakukan online secara tersinkronisasidari total 14 sesi tatap muka. Seluruh proses pembelajaran ini harus direncanakan dan didesain secara matang yang tercatat pada dokumen RPKPS (sebagai contoh pada pertemuan ke 7 hingga 11 online). Sedangkan video dan modul bersifat sebagai konten pembelajaran.

Diakui, bahwa FK  -KMK memiliki metode pembelajaran paling terdepan terkait program pendidikan jarak jauh ini dan telah melakukan lebih banyak praktek secara fakta. Oleh karena itu, pihak PIKA sangat terbuka untuk menerima masukan dan dapat mengakomodasi kondisi tersebut melalui addendum SK rektor. Permohonan ini dapat disetujui dengan jaminan kualitas layanan pendidikan dan evaluasi pembelajaran secara periodik, mengadopsi standar dari Dikti.

Efisiensi dalam proses pendidikan dan  pemerataan akses pendidikan merupakan motivasi pendidikan jarak jauh. Namun kualitas menjadi hal penting yang tidak bisa dipisahkan dalam proses blended learning. Sebagai contoh, di fakultas ekonomi dan bisnis, mata kuliah manajemen tidak bisa diajarkan secara online karena harus dipelajari bahasa tubuh, keterampilan, interaksi, dan lain - lain. Oleh karena itu, penilaian tidak bisa hanya dilakukan melalui pengetahuan namun juga keterampilan, yang tidak menutup kemungkinan diperlukan kehadiran dosen. Dr. Irwan Endrayanto Aluicius, S.Si., M.Sc. juga menyampaikan pengalamannya ketika mengajar jarak jauh, bahwa mahasiswa dirasa lebih pasif ketika online dibandingkan jika tatap muka langsung di kelas. Oleh karena itu, untuk memastikan kualitas antara kelas reguler dan jarak jauh, peran tutor di lokasi asal mahasiswa menjadi sangat penting untuk kebutuhan interaksi dan pemahaman. Hal ini juga telah dilakukan BINUS yang memiliki tutor di Qatar dan tetap diperlukan 2x per semester untuk dosen ke Qatar. Hal ini menjadi tantangan tersendiri, meskipun karena tutor bersifat sangat dinamis. Salah satu solusi adalah dengan memanfaatkan alumni, praktisi di daerah - daerah terkait dan peneliti di pusat - pusat kajian FK - KMK UGM.

Untuk tahap berikutnya, diperlukan penyusunan naskah akademik blended learning oleh prodi IKM FK - KMK UGM yang ditujukan kepada Rektor UGM. Dokumen ini secara rinci menjelaskan proses pembelajaran dan jaminan kualitasnya. Sedangkan terkait sentralisasi aplikasi melalui ELOK, pihak PIKA siap mendampingi secara teknis untuk mendapatkan akses dan migrasi atas modul atau konten yang telah tersedia. Peluang besar juga untuk para dosen dan pusat-pusat kajian untuk  menginisiasi pengembangan MOOC bersertifikat yang pada saat ini belum ada.

Copyright © 2019 Manajemen Pendidikan Tinggi